RINGKASAN

Kerawanan Sekolah
Sekolah sebagai tempat pendidikan dan pengajaran bagi para siswa tidak lepas dari berbagai bentuk kerawanan. Bahkan, terkadang kerawanan itu begitu mudah masuk sejalan dengan perkembangan usia para siswa yang juga mulai rawan, terutama usia ABG (anak baru gede). Apalagi jika kontrol dari sekolah tidak ketat dan waspada. Kita sendiri sangat menyesalkan dengan munculnya perilaku negatif pelajar yang biasanya ditunjukkan dalam bentuk perkelahian antarpelajar, penggunaan obat-obat terlarang, serta mulai mencoba-coba pergaulan seks bebas. Jelas, ini jadi tantangan bagi pihak sekolah. walau bagaimana pun, sekolah harus ikut bertanggung jawab menjaga moral para pelajar. Harus diakui, akhir-akhir ini tingkat kualitas penyimpangan yang dilakukan oleh para pelajar semakin meningkat. Berbagai pengaruh budaya barat yang sering kali dipertontonkan secara vulgar di televisi ataupun media intenet turut berperan mempercepat dan meningkatkan kualitas negatif perilaku pelajar. Jika kita hitung, berapa kasus yang muncul setiap hari akibat perilaku pelajar yang tidak terpuji, dan itu yang terjadi di lingkungan sekolah. Beberapa gejala kerawanan yang sering tampak di lingkungan sekolah, di antaranya membolos, merusak sarana sekolah, menentang terhadap guru, perkelahian, bahkan terjadi pelecehan dan penganiayaan. Masalah kerawanan sekolah ini menjadi persoalan serius. Penanggulangannya tentu tidak bisa hanya dilakukan oleh pihak sekolah. Unsur-unsur di luar sekolah pun harusnya turut berperan, terutama unsur keluarga. Menurut beberapa pakar, ada beberapa jenis penyimpangan yang dapat dikategorikan sebagai kerawanan sekolah. Di antaranya sebagai berikut:

Pertama, perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum atau perbuatan antisosial, seperti berada di tempat-tempat hiburan atau pusat perbelanjaan saat jam belajar dan perilaku buruk yang dilakukan secara kolektif. Biasanya pelajar usia remaja mulai membentuk kelompok-kelompok (“gank”) sebagai bentuk pencarian identitas dan menunjukkan eksistensinya di lingkungan masyarakat.

Kedua,perbuatan-perbuatan yang melanggar hak-hak orang lain yang bersifat kebendaan, seperti mengambil barang milik sekolah, teman sekolah, atau pun milik umum; dan melakukan pemerasan di lingkungan sekolah dan luar sekolah. Pemerasan adalah segala tindakan yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri dengan melakukan penekanan terhadap orang lain. Biasanya pemerasan terjadi oleh pelajar yang merasa diri lebih “kuat” terhadap pihak yang lebih “lemah”.

Ketiga, perbuatan-perbuatan dengan pelanggaran hukum berat, seperti kasus pembunuhan
oleh pelajar. Hal ini sudah banyak terjadi ketika para pelajar terlibat pengeroyokan atau perkelahian antarpelajar. Untuk kasus ini, jelas sekolah harus melibatkan pihak kepolisian
untuk memberikan efek jera. Berbagai kemungkinan kerawanan sekolah tersebut harus selalu diwaspadai. Banyaknya jumlah siswa di satu sekolah menunjukkan banyaknya pula karakter yang harus dipahami. Belum lagi latar belakang mereka berbedabeda. Tidak semua siswa berlatar belakang dari keluarga yang harmonis. Begitu juga tidak semua siswa berlatar belakang dari lingkungan masyarakat yang agamis. Adapun pihak sekolah dapat melakukan penanggulangan. Meski penanggulangannya tidak sesederhana yang dibayangkan, tetapi setidaknya kita mempunyai usaha dan terus memikirkan pemecahannya. Pertama, penanggulangan jangka pendek. Penanggulangan ini meliputi meningkatkan pengawasan terhadap tata teftib sekolah, meningkatkan fungsi dan peranan Bimbingan dan Penyuluhan (BP), menjalin hubuhgan dan kerja sama antarsekolah dengan pihak orangtua dan masyarakat, tidak menerima sembarang tamu yang ada hubungannya dengan siswa, berhati-hati dalam menerima siswa pindahan, melakukan pendekatan secara individual, baik oleh guru BP maupun guru bidang studi, melakukan operasi mendadak terhadap kelas-kelas secara terprogram, dan memberikan sanksi yang tegas dan jelas terhadap segala pelanggaran dan pelaku kerawanan. Kedua, penanggulangan jangka menengah. Penanggulangan ini meliputi meningkatkan kegiatan ekstrakulikuler sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sekolah, menyelenggarakan ceramah-ceramah agama secara rutin, mewajibkan siswa untuk mengikuti acara pengajian-pengajian atau kegiatan positif lain di daerahnya. Ketiga, penanggulangan jangka panjang. Penanggulangan ini meliputi mengimbau kepada pemerintah melalui Depdiknas untuk menertibkan lokasi sekolah-sekolah secara terprogram menghimbau kepada pemerintah supaya menambah sarana untuk penyaluran bakat dan minat para pelajar, mengimbau supaya setiap sekolah mempunyai dokter jaga untuk memeriksa siswa yang sakit atau sering sakit di sekolah (meminta obat pusing), mengimbau agar pemerintah bersedia membatasi tayangan-tayangan televisi yang berbau pornografi, pornoaksi, dan tindak kekerasan, serta mengimbau kepada para orang tua untuk lebih intensif memerhatikan putra-putrinya yang sedang beranjak dewasa.
Karya Ismail Kusmayadi, S.Pd.

RINGKASAN:
a)Sekolah sebagai tempat pendidikan dan pengajaran bagi para siswa tidak lepas dari berbagai bentuk kerawanan.
b)Menurut beberapa pakar, ada beberapa jenis penyimpangan yang dapat dikategorikan sebagai kerawanan sekolah. Di antaranya sebagai berikut:
c)Pertama, perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum atau perbuatan antisosial, seperti berada di tempat-tempat hiburan atau pusat perbelanjaan saat jam belajar dan perilaku buruk yang dilakukan secara kolektif. Biasanya pelajar usia remaja mulai membentuk kelompok-kelompok (“gank”) sebagai bentuk pencarian identitas dan menunjukkan eksistensinya di lingkungan masyarakat.
d)Kedua,perbuatan-perbuatan yang melanggar hak-hak orang lain yang bersifat kebendaan, seperti mengambil barang milik sekolah, teman sekolah, atau pun milik umum; dan melakukan pemerasan di lingkungan sekolah dan luar sekolah. Pemerasan adalah segala tindakan yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri dengan melakukan penekanan terhadap orang lain. Biasanya pemerasan terjadi oleh pelajar yang merasa diri lebih “kuat” terhadap pihak yang lebih “lemah”.
e)Ketiga, perbuatan-perbuatan dengan pelanggaran hukum berat, seperti kasus pembunuhan
oleh pelajar. Hal ini sudah banyak terjadi ketika para pelajar terlibat pengeroyokan atau perkelahian antarpelajar. Untuk kasus ini, jelas sekolah harus melibatkan pihak kepolisian
untuk memberikan efek jera.
f)Penanggulangan ini meliputi mengimbau kepada pemerintah melalui Depdiknas untuk menertibkan lokasi sekolah-sekolah secara terprogram menghimbau kepada pemerintah supaya menambah sarana untuk penyaluran bakat dan minat para pelajar, mengimbau supaya setiap sekolah mempunyai dokter jaga untuk memeriksa siswa yang sakit atau sering sakit di sekolah (meminta obat pusing), mengimbau agar pemerintah bersedia membatasi tayangan-tayangan televisi yang berbau pornografi, pornoaksi, dan tindak kekerasan, serta mengimbau kepada para orang tua untuk lebih intensif memerhatikan putra-putrinya yang sedang beranjak dewasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: